Selasa, 02 Agustus 2011

PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN PADA MASA BANI ABBASIYAH

BAB I
PENDAHULUAN
Masa Daulah Bani Abbasiyah adalah zaman meranumnya ilmu pengetahuan dalam Dunia Islam. Tamadun Islam dalam zaman ini, ditandai oleh berkembangnya ilmu pengetahuan dengan sangat pesat.
Di zaman ini, umat Islam telah membuat jalan baru bagi kehidupan akal dan kehidupan ilmunya. Ini adalah hasil logis dari zamannya sendiri yang telah mengalami perubahan. Sejarah perkembangan pikiran dari berbagai bangsa melalui jalan yang sama dalam evolusi kemajuannya yang bertingkat-tingkat yang tiap-tiap tingkat itu merupakan mata rantai yang bersambung. Peningkatan alam pikiran sejalan dengan bertambahnya kelengkapan waktu dan sebab, karena pertumbuhan kehidupan akal dan ilmu bukanlah khayal atau mimpi yang datang tiba-tiba dengan tidak terikat dengan kanun dan sunnah.
Di zaman ini banyak sekali buku-buku ilmu pengetahuan yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dari berbagai bahasa asing, di samping buku-buku asli yang dikarang dalam berbagai bidang ilmu.















BAB II
PEMBAHASAN
A. Kegiatan Mawaly di Bidang Ilmu.
Yang menarik perhatian ahli sejarah kebudayaan Islam, bahwa sebahagian besar orang yang berkecimpung dalam dunia ilmu adalah kaum mawaly (Muslim bukan turunan Arab atau bekas budak), terutama turunan Persia. Bahasa Arab adalah media satu-satunya yang menumbuhkan saling mengerti antara kaum muslimin.
Dalam hal ini, Ibnu Khaldun menandaskan bahwa adalah suatu keanehan nyata, bahwa pendukung ilmu pengetahuan dalam agama Islam, kebanyakan adalah oreang ajam.
Berkata Nicholson dalam bukunya Literature history of the Arabs:
“Luasnya Daulah Abbasiyah dengan kekayaannya yang berlimpah-limpah dan perdagangannya yang maju, telah memuncak jejak keemasan dalam menciptakan kebangunan kebudayaan; jejak yang belum pernah disaksikan sebelumnya, sehingga telah menjadi kenyataan bahwa semua orang, sejak dari khalifah hingga rakyat jelata, semua mereka mendadak menjadi pelajar dan mahasiswa, atau sekurang-kurang menjadi pendukung dan penyebar ilmu. Di zaman ini, kaum musilim menjelajah tiga benua untuk menuntut ilmu pengetahuan. Kembalinya mereka ke tanah air, ibarat lebah pulang ke sarang membawa sari madu. Kemudian mereka mengarang sejumlah besar kitab. Kitab-kitab mana merupakan Dairatul Ma’arif (ensiklopedia) yang sangat berjasa, yang telah mengantarkan kepada kita ilmu-ilmu baru yang belum pernah ada.....”

Demikianlah gambaran Timur Islam dalam masa Daulah Abbasiyah, sedangkan Barat Islam pun tidak ketinggalan dari Timurnya. Kordoba dan kota-kota lain di Andalusia menyaingi bagdad, Basrah, Kufah, Damaskus, dan fushtath.
Kota-kota Andalusia merupakan gelanggang luas bagi ilmu pengetahuan, dan menjadi Ka’bahnya para sarjana. Mesjid-mesjidnya sebagai pusat ilmu telah dikunjungi oleh orang-orang Eropah untuk memetik ilmu dan kebudayaan Islam. Dari Barat sana, muncullah sejumlah besar para ulama, sarjana, penyair dan pujangga, filusuf, fukaha, ahli tafsir dan muhaddisin.
B. Ma’had Ilmu Pengetahuan.
Sebelum zaman Daulah Abbasiyah, dalam dunia Islam belum didirikan gedung tempat belajar tersendiri. Mesjidlah merupakan gedung sekolah, baik untuk pendidikan rendah, menengah ataupun tinggi.
Mesjid-mesjid merupakan sekolah-sekolah utama tempat mempelajari al-Qur’an, al-Hadits dan Fiqh. Bermacam ilmu pengetahuan yang dipelajari dalam zaman Daulah Abbasiyah I, sedangkan mesjid-mesjid merupakan pusat penting bagi gerakan ilmu pengetahuan.
Mesjid Bashrah adalah contoh nyata sebagai satu pusat lembaga ilmu pengetahuan, yang di dalamnya ada halaqat al-jadh, halaqat al-fiqh, halaqat at-tafsir wal hadits, halaqat ar-riyadliat, halaqat lissyi’ri wal adab, dan lain-lain. Banyak orang dari berbagai bangsa dan agama yang belajar dalam halaqat-halaqat tersebut.
Dengan demikian, berkembanglah kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
Adapun orang Islam yang bukan Arab, harus mempelajari bahasa Arab dengan kaedah-kaedahnya, untuk memudahkan bagi mereka mempelajari al-Qur’an dan al-Hadits.
Perkembangan ma’ahid dan maktabaat sangat maju di zaman ini, sesuai dengan majunya gerakan terjemah dan industri kertas. Ma’ahid dan maktabat-maktabat itu adalah pusat-pusat kebudayaan Islam yang terpenting.
Pada permulaan Daulah Abbasiyah, juga belum ada pusat pendidikan yang bernama Madrasah (sekolah) hanya yang ada ma’had (tempat belajar) yang lain, yaitu:
1. Kuttab, yaitu tempat tempat belajar dalam tingkat pendidikan rendah dan menengah.
2. Mesjid yang biasa dipakai untuk pendidikan tinggi dan takhassus.
3. Majlis Munadharah, yaitu majelis pertemuan para ulama sarjana, ahli pikir dan pujangga untuk membahas masalah-masalah ilmiah. Majelis serupa ini terdapat di kota-kota besar dalam Negara Islam.
4. Darul hikmah, yang didirikan oleh Harun Ar-Rasyid dan kemudian disempurnakan Khlaifah Makmun. Darul hikmah adalah perpustakaan terbesar, yang juga disediakan ruangan-ruangan tempat belajar. Di samping perpustakaan besar ini, kemudian dibangun pusat pendidikan tinggi yang juga dinamakan Darul Hikmah (Universitas Darul Hikmah).
5. Madrasah, Perdana Mentri Nadhamul Mulk yang memerintah dalam tahun 456-485 H adalah orang yang mula0mula mendirikan sekolah dalam bentuk yang ada sampai sekarang ini, dengan nama “Madrasah”. Madrasah yang didirikan Nidhamul Mulk, terdapat di Baghdad, Balkh Muro, Thabristan, Naisabur, Hara, Isfahan, Basrah, Mausil, dan di kota-kota lainnya. Madrasah-madrasah yang didirikan ini, mulai dari tingkat rendah, menengah dan tinggi dan meliputi segala bidang.
C. Gerakan Penerjemahan.
Gerakan penerjemahan berlangsung dalam tiga fase:
1. Pada masa Khalifah al Mansur hingga Harun Ar Rasyid. Pada fase ini yang banyak diterjemahkan adalah karya-karya dalam bidang astronomi dan manthiq.
2. Berlangsung mulai Khalifah al Makmun hingga tahun 300 H. Buku-buku yang banyak diterjemahkan adalah dalam bidang filsafat dan kedokteran.
3. Berlangsung setelah tahun 300 H, terutama setelah adanya pembuatan kertas. Bidang-bidang ilmu pengetahuan yang diterjemahkan semakin meluas.
Di zaman Daulah Amawiyah, usaha penerjemahan kitab-kitab asing ke dalam bahasa Arab belum begitu maju.
Setelah berdiri Daulah Abbasiyah, usaha penerjemahan kitab-kitab asing dilakukan dengan giat sekali.
Khalifah al Mansur mengambil bahagian terpenting dalam hal ini. Banyak kitab-kitab dari berbagai bahasa yang meliputi segala bidang ilmu, yang berhasil disuruh terjemah ke dalam bahasa Arab oleh Khalifah Mansur. Sejarah, ilmu kalam, falsafah, ilmu alam, ilmu pasti, musik, dan lain-lain.
Khalifah Mansur lebih jauh lagi melangkah, yaitu mengirim tim-tim sarjana ke berbagai pusat ilmu di dunia, untuk mencari kitab-kitab penting yang harus diterjemahkannya.
Pada umumnya, para Khalifah Daulah Abbasiyah sangat mementingkan gerakan terjemah, demikian pula para pembesar negara lainnya. Ini juga merupakan salah satu faktor pokok, mengapa ilmu pengetahuan sangat maju di zaman Daulah Abbasiyah.
Pada masa penerjemahan ini (750-900), begitu banyak buku-buku pengetahuan dari Yunani, Persia dan India diterjemahkan ke dalam bahasa Arab khususnya pada zaman Harun Ar-Rasyid dan Makmun, dengan demikian kebangunan dan kebangkitan intelektual muslim berasal dari Yunani, Persia dan India, antara lain yang menonjol didirikannya semacam lembaga penejerjemahan yang diberi nama Darul Hikmah di bawah asuhan Hunain ibn Ishak. Pelopor penerjemahan lainnya adalah Yahya ibn Masawih.
Pengaruh gerakan terjemahan terlihat dalam perkembangan ilmu pengetahuan umum, terutama di bidang astronomi, kedokteran, filsafat, kimia dan sejarah. Dalam lapangan astronomi terkenal nama al-Fazari sebagai astronom Islam yang pertama kali yang meuyusun astrolobe. Al-Farghani, yang dikenal di Eropa dengan nama al-Faragnus, menulis ringkasan ilmu astronomi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis. Dalam lapangan kedokteran dikenal nama Al-Razi dan Ibn Sina. Al-Razi adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles. Dia juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. Sesudahnya, ilmu kedokteran berada di tangan Ibn Sina. Ibn Sina yang juga seorang filosof, berhasil menemukan sistem peredaran darah pada manusia. Di antaranya karyanya adalah al-Qanun fi al-Thibb yang merupakan ensiklopedi kedokteran paling besar dalam sejarah.
Dalam bidang optika Abu Ali Al-Hasan ibn Al-Haythami, yang di Eropa dikenal dengan nama Alhazen, terkenal sebagai orang yang menentang pendapat bahwa, mata mengirim cahaya kepada benda yang dilihat. Di bidang matematika terkenal nama Muhammad ibn Musa Al-Khawarizmi, yang juga mahir dadlam bidang astronomi. Dalam bidang sejarah terkenal nama Al-Mas’udi. Dia juga ahli dalam ilmu geografi.
Tokoh-tokoh terkenal dalam bidang filsafat, antara lain Al-Farabi, Ibn Sina, dan Ibn Rusyd. Al-Farabi banyak menulis buku tentang filsafat, logika, jiwa, kenegaraan, etika dan interpretasi terhadap filsafat Aristoteles. Ibn Sina juga banyak mengarang buku tentang filsafat. Yang terkenal di antaranya ialah al-Syifa’. Ibn Rusyd yang di Barat lebih dikenal dengan nama Averroes, banyak berpengaruh di Barat dalam bidang filsafat, sehingga di sana terdapat aliran yang disebut dengan Averroisme.
D. Penyusunan Ilmu-Ilmu Islam.
Ilmu-ilmu Islam ialah ilmu-ilmu yang muncul di tengah-tengah suasana hidup keIslaman berkaitan dengan agama dan bahasa Al-Qur’an, dapat juga dinamakan dengan Ilmu Naqli (ilmu salinan), karena setiap penyelidik di lapangan ini bertugas menyalin dan meriwayatkan apa yang telah disalin itu. Ahli tafsir dan ahli hadits meriwayatkan apa yang diterimanya dari satu golongan yang menerimanya pula dari satu golongan lain, dan seterusnya sehingga sampai kepada sumbernya yang pertama, yaitu Rasulullah Saw. Seorang ahli bahasa bertugas menyalin bahasa dari orang-orang Arab asli atau dari siapa yang mendengarnya secara langsung, melalui perantaraan orang-orang Arab asli itu.
Berikut adalah sebagian dari ilmu-ilmu Islam yang telah mengalami perubahan dan perkembangan besar di zaman pemerintahan Abasiyah pertama itu:
 Kelahiran Ilmu Tafsir dan Pemisahannya sari Hadis
Boleh dikatakan bahwa zaman pemerintahan Abbasiyah pertama itu telah melahirkan ilmu tafsir Al-Qur’an dan pemisahannya dari ilmu hadis. Mengenai kelahiran ilmu tafsir ternyata bahwa sebelum zaman tersebut tidak terdapat penafsiran seluruh al-Qur’an, dan tidak juga sebagiannya secara teratur dan tersusun. Sebaliknya yang ada ialah tafsir bagi sebagian-sebagian ayat dari berbagai surah, dibuat untuk tujuan tertentu atau karena ornag banyak berselisih pendapat mengenai maknanya.
Tetapi di zaman pemerintahan Abbasiyah pertama, bidang tafsir telah mengalami suatu perekembangan yang besar dan menjadi berangkai-rangkai serta menyeluruh. Mengenai perkara ini Ibnu Nadhim telah menceritakan bahwa Umar bin Bukair telah meminta kepada al-Faraa’ supaya membuat sebuah buku yang mengandung keterangan mengenai ayatayat al-Qur’an, yang akan menjadi bahan rujukannya apabila ditanya oleh Amir Al-Hasan bin Sahl jika ada masalahnya. Al-Faraa’ telah meminta permintaan tersebut dan meminta seorang tukang azan di sebuah mesjid yang menghafal al-Qur’an untuk membaca surah demi surah dan al-Faraa’ menafsirkan ayat-ayatnya sampai selesai seluruh al-Qur’an. Tidak siapapun yang pernah berbuat demikian sebelum itu. Tafsir al-Faraa’ itu merupakan tafsir yang pertama sekali tersusun, menurut susunan ayat-ayat al-Qur’an, serta sebagai perintis jalan kepada pentafsir-pentafsir yang lahir sesudahnya, sehingga muncul at-Tabari yang menghimpunkan di dalam buku tafsirnya semua keistimewaan yang terdapat di dalam karya-karya tafsir yang diusahakan oleh tokoh-tokoh tafsir sebelumnya.
Pemisahan ilmu tafsir dari hadis juga terdapat di zaman ini. Sebelum itu kaum muslimin menafsirkan al-Qur’an melalui hadis-hadis Rasulullah Saw atau keterangan-keterangan dari golongan tabi’in. Tetapi di zaman pemerintahan Abbasiyah yang gemilang itu, tafsir al-Qur’an tegak dan tersendiri, dan banyak pentafsir menggunakan hadis Rasulullah Saw, atau keterangan dari golongan tabi’in atau puisi Arab. Yang terpenting pokok tafsir itu adalah dari kata-kata pentafsir sendiri, bukan riwayat atau berita-berita yang disalinnya.
 Ilmu Fiqh dan Mazhab-mazhabnya.
Di antara kebanggaan zaman pemerintahan Abbasiyah pertama ialah terdapatnya empat Imam fiqh yang ulung ketika itu. Mereka ialah Imam Abu Hanifah (150 H), Imam Malik (179 H), Imam Syafi’i (204 H), dan Imam Ahmad bin Hanbal (241 H). Keempat Imam tersebut merupakan ulama-ul;ama fiqh yang paling agung dan tiada tandingannya di dunia Islam. Mazhab-mazhab fiqh mereka adalah yang paling mashur dan paling luas penyebarannya sampai sekarng ini.
Imam Abu Hanifah dalam pendapat-pendapat hukumnya dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di Kufah, kota yang berada di tengah-tengah kebudayaan Persia yang hidup kemasyarakatannya telah mencapai tingkat kemajuan yang lebih tinggi. Karena itu, mazhab ini lebih banyak menggunakan pemikiran rasional daripada hadis. Muridnya dan sekaligus pelanjutnya, Abu Yusuf, menjadi Qadhi al-Qudhat di zaman Harun Al-Rasyid.
Berbeda dengan Abu Hanifah, Imam Malik banyak menggunakan hadis dan tradisi masyarakat Madinah. Pendapat dua tokoh mazhab hukum itu ditengahi oleh Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal.
Di samping empat pendiri mazhab besar tersebut, pada masa pemerintahan Bani Abbas banyak mujtahid mutlak lain yang mengelurkan pendapatnya secara bebas dan mendirikan mazhabnya pula. Akan tetapi, karena pengikutnya tidak berkembang, pemikiran dan mazhab itu hilang bersama berlalunya zaman.
Di antara buku-buku yang paling baik mengenai tasyri’, fiqh dan pemerintahan di zaman tersebut ialah buku al-Kharaj, yang disusun oleh Abu Yusuf, sebagai menjawab seruan Khalifah Harun Al-Rasyid yang memintanya menyusun sebuah risalah yang berhubung dengan sistem ekonomi negara menurut ajaran Islam.
 Nahwu dan Aliran-alirannya.
Zaman pemerintahan Abbasiyah pertama adalah kaya dengan ahli-ahli nahu bahasa Arab yang terbagi kepada dua aliran terbesar; aliran Basrah dan aliran Kufah. Di antara tokoh-tokoh nahu dari aliran Basrah ketika itu ialah Isa bin Umar as-Tsaqafi (149 H), al-Akhfasy (177 H), Sibawaih (180 H), Yunus bin Habib (182 H). Di antara tokoh-tokoh nahu dari aliran kufah ialah Abu Ja’far ar-Ru’asi, al-Kisaa’i (182 H) dan al-Faraa’ (208 H). Siapa-siapa yang melihat nama-nama yang disebutkan ini akan menyadari bahwa sampai sekarang di dalam kajian-kajian nahu bahasa Arab pendapat-pendapat dan buah pikirannya mengenai yang muncul di zaman pemerintahan Abbasiyah pertama itu masih lagi menjadi pegangan.
 Sejarah dan Kelahirannya.
Para penulis Sirah telah menyambung tulisan sejarah hidup Rasulullah Saw dengan sejarah hidup khalifah-khalifah yang menyusul baginda, karena para khalifah itu meneruskan tugas-tugas yang telah dimulai oleh Rasulullah Saw. Hasil penulisan yang baru ini kemudian telah dinamakan sebagai Tarikh (sejarah) dan bukan lagi Sirah. Di antara tokoh-tokoh terkenal yang menyusunnya di zaman tersebut, ialah al-‘Alamah Muhammad bin Umar al-Waqidi (lebih kurang 208 H). Beliau telah menyusun buku ¬at-Tarikhul-Kabir, yang menjadi sumber utama bagi at-Tabari mengenai banyak peristiwa sampai tahun 189 H. Al-Waqidi juga telah menyusun buku lain, dikenal dengan nama al-Maghazi.
E. Pusat Kegiatan Ilmu.
Kota-kota yang menjadi pusat kegiatan ilmu di zaman Daulah Amawiyah, masih tetap menjadi pusat ilmu pengetahuan di masa Daulah Abbasiyah.
Di samping kota-kota yang telah lama menjadi pusat kegiatan ilmu, seperti Mekkah, Madinah, Kufah, Damaskus, Fusthath, Kairawan, Kordova, maka dalam zaman ini bertambah lagi dengan kota-kota baru, seperti Baghdad, Isfahan, dan sebagainya. Di tiap kota tersebut, pada umumnya ada istana-istana Khalifah, sultan, atau pembesar lainnya merupakan “Balai Pengembangan Ilmu”.
Pusat-pusat kegiatan ilmu yang terpenting dalam zaman ini, antara lain sebagai berikut:
1. Hijaz: Mekkah dan Madinah dua kota penting di Hijaz, yang menjadi pusat kegiatan ilmu hadis dan fiqh.
2. Irak: kota-kota Irak dalam zaman ini, terkenal dengan pusat kegiatan segala macam ilmu, seperti tafsir, hadis, fiqh, bahasa, sejarah, ilmu kalam, falsafah, ilmu alam, ilmu pasti, musik, dan lain-lainnya.
Kota-kota Baghdad, Kufah dan Bashrah berlomba-lomba dalam hal memajukan ilmu.
Masing-masing bangga dengan kemajuannya. Kota Marbad masih menjadi kota kebudayaan yang sangat penting, yang dikunjungi para pujangga dari segenap penjuru.
3. Mesir: Kota Fushtath di Mesir mempunyai kemampuan yang sangat besar mempergiat hidupnya ilmu pengetahuan, dan mesjid Amr menjadi pusatnya. Dalam zaman Daulah Fathimiyah, dibangun pula Jami’ Azhar. Fushtath yang kemudian menjadi Kairo sangat penting bagi Dunia Islam dalam usaha memperluas ilmu. Di samping fushtath, kota Iskandariyah pun menjadi pusat ilmu.
4. Syam: kota-kota Syam, seperti Damaskus, Halab, Bairut dan lainnya masih tetap menjadi pusat kegiatan ilmu dalam zaman ini. Mesjid Damaskus yang terkenal itu, adalah lambang dari gerakan ilmu di Syam.
5. Isfahan: Istana Bani Buwaihi di Isfahan merupakan Ka’bahnya para ulama, sarjana dan pujangga.
6. Bukhari: Istana Dinasti Samany adalah perguruan tinggi dan merupakan pusat kegiatan ilmu dan kehidupan akal. Terkenallah Maktab Nuh bin Nashr as-Samany sebagai suatu perguruan tinggi yang lengkap.
7. Thabristan: Istana Amir Thabristhan Qabus bin Wasymakir, yang terletak di tepi laut Qazwin, juga dijadikan pusat kegiatan ilmu.
8. Ghaznah: Sultan Mahmud di Ghaznah, adalah seorang raja yang sangat mementingkan ilmu, sehingga istananya dijadikan majelis ilmu pengetahuan.
9. Halab: Saifud Daulah menjadikan istananya tempat pertemuan para ulama, sarjana, dan pujangga.
10. Istana Ibnu Thulun: Zaman Ibnu Thulun di Mesir, terkenal dengan sejumlah ulama, muhaddisin, ahli sejarah, muthaswwifin, pengarang dan penyair. Mesjid Amr dan Mesjid Ibnu Thulun menjadi pusat ilmu penting.
11. Andalusia: bersamaan dengan berdiri Daulah Abbasiyah di Timur, maka di Barat berdirilah Daulah Amawiyah, yaitu di Andalusia. Kota Kordoba terkenal dengan ma’had ilmunya, Maktabah Kordoba yang berisi jutaan jilid buku dan majelis-mejelis ilmu lainnya. Selain Kordoba, beberapa kota lainnya di Andalusia juga menjadi pusat kegiatan ilmu, seperti Granda, Valensia dan Murcia.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Zaman pemerintahan Daulah Abbasiyah mmerupakan zaman yang paling pesat akan pertumbuhan atau perkembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan., tamadun Islam telah mulai mantap setelah selesainya gerakan perluasan dan penaklukan yang menjadi keistimewaan zaman pemerintahan Bani Umayyah. Kebudayaan dapat berkembang dengan luas di kalangan sesuatu uamt apabila umat itu berada dalam keadaan yang tenteram dan ekonomi yang stabil. Umat Islam menikmati keadaan ini setelah berdirinya kerajaan Abbasiyah dan Khalifah Abul Abbas as-Saffah dan Khalifah Abu Ja’far berhasil mempertahankan serta menumpas musuh-musuhnya. Setelah tercapai kemenangan di medan perang, tokoh-tokoh tentara mebukakan jalan kepada anggota-anggota pemerintahan, keuangan dan undang-undangb dan berbagai ilmu pengetahuan untuk bergiat di lapangan-lapangan masing-masing. Maka dengan demikian maka muncullah di zaman itu sekelompok penyair-penyair handalan, filosof-filosof, ahli-ahli sejarah, ahli-ahli ilmu hisab, tokoh-tokoh agama dan pujangga-pujangga yang memperkaya perbendaharaan bahasa Arab.













Daftar Pustaka

• Asmuni, Yusran. 1996. Dirasah Islamiyah II. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
• Hasjmy, A. 1995. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Bulan bintang.
• Syalaby, A. 1997. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta: PT Al-Husna Zikra.
• Yatim, Badri. 2010. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Rajawali Pers.

0 komentar:

Poskan Komentar